Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Artikel ilmiah oleh : M. Ihsan El-Syams
Pada masa-masa ini, cara untuk mengontrol masyarakat secara luas adalah melalui media sosial dengan informasi. Informasi di zaman ini memiliki power yang lebih kuat daripada zaman abad pertengahan dahulu. Bila dulu yang dapat mengontrol masyarakat adalah siapa yang menjadi raja, zaman ini siapa yang memegang/memiliki informasi maka dia yang dapat mengontrol masyarakat.
Namun, acap kali kita menemui di media sosial ada tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh, tetapi apa yang mereka bicarakan di depan audience adalah omong kosong yang tidak berlandaskan argumen yang kokoh bahkan nyeleneh.
Tapi mengapa tokoh-tokoh aneh ini dapat terkenal? Bagaimana bisa mereka mendapatkan atensi? Dan mengapa malah memiliki banyak pengikut?
Berangkat dari rasa penasaran inilah penulis melakukan perenungan panjang selama lebih dari 3 bulan, dan juga melakukan riset untuk menemukan jawaban. Terakhir melalui tulisan inilah kami ingin membagikan apa yang kami dapatkan kepada para pembaca sekalian.
Tokoh-tokoh tersebut adalah mereka yang tidak memiliki kapabilitas intelektual yang memadai atas apa yang mereka lakukan dan ucapkan. Penulis menyebut para tokoh ini dengan sebutan Pseudo-Intellectual(Pseudo = palsu; Intellectual = kecerdasan). Dikarenakan mereka sering kali mengucapkan bahkan mengklaim hal-hal diluar akal sehat, tetapi dibuat seolah-olah sangat meyakinkan. Celakanya banyak orang yang percaya dengan para tokoh pseudo-intellectual ini, dan tidak sadar akan kebodohan para tokoh ini, bahkan hingga pada titik membela mati-matian.
Karena media sosial yang bersifat open source. Medsos tidak memiliki filter untuk hal-hal seperti ini, selama konten yang diunggah viral, maka algoritma medsos akan menyajikan konten tersebut di FYP banyak orang tidak peduli apakah penerima konten dapat memfilter konten tersebut.
Max Weber, seorang sosiolog legendaris membuat sebuah teori bernama Charismatic Authority Theory (Teori Otoritas Karismatik). Menurutnya, masyarakat tradisional-transisional cenderung patuh terhadap tokoh yang memiliki kharisma, bukan kapabilitas. Ketika seorang figur mendandani dirinya dengan pakaian keagamaan dan melakukan klaim menguasai ilmu mistik, jelas terlihat figur tersebut membuat dirinya sendiri terlihat kharismatik. Yang menjadi masalah adalah, pelakunya bukanlah orang yang tepat, dapat kita amati dari beberapa perkataan figur itu yang nyeleneh dan khas perilaku irasional yang menyimpang dari logika sehat.
Sepasang psikolog bernama Justin Kruger dan David Dunning (1999) menemukan bahwa orang yang tidak kompeten (bodoh) seringkali memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi melebihi orang pintar, karena mereka tidak tahu seberapa bodohnya mereka. Diperparah oleh kondisi psikologi seperti inilah para figur tersebut semakin memperkuat kharisma mereka. Karena orang yang benar-benar cerdas akan yakin dengan perkataan mereka, sehingga bagi orang awam hal ini menjadi jebakan karena kesulitan membedakan mana yang benar-benar cerdas dan mana yang berpura-pura cerdas
Manusia pada dasarnya benci dengan ketidakpastian(ruang informasi yang kosong), hal ini akan mendorong manusia untuk mengisi ketidakpastian itu dengan jawaban. Kondisi ini diperparah dengan mayoritas massa memiliki Mob Mentality, dimana manusia cenderung akan menurun kecerdasannya ketika bersama sekelompok orang(menganggap jika ada orang banyak ga mungkin semuanya salah). Contoh nyatanya adalah eksperimen The Bystander Effect (Latané & Darley, 1968)(eksperimen ruangan berasap). Ketika seseorang sendirian di dalam ruangan dan ruangannya berasap, dia akan segera keluar dari ruangan. Tapi ketika dia ditaruh bersama sekelompok orang(dan semuanya sudah diberi tahu akan adanya asap kecuali orang ini) dan ruangannya berasap, orang itu akan melihat reaksi orang-orang di sekelilingnya yang ternyata tetap tenang, sehingga dia enggan untuk keluar dari ruangan itu karena berasumsi “Ah, orang sebanyak ini ga mungkin salah, pasti aman.”
Terakhir, yang paling ironis dalam masyarakat kita(dan juga memperparah keadaan) adalah, mereka hidup dalam kondisi susah dan keputusasaan hidup (ekonomi, kesehatan, atau spiritual) sehingga akal sehat mereka melemah dan menjadi sangat mudah percaya (credulous) pada keajaiban instan. Sehingga ketika ada yang menawarkan ‘keajaiban’ seperti bacaan dzikir khusus yang dapat membuat seseorang kaya dalam sekejap, orang tersebut akan mudah percaya.
Kami sebagai penulis akan menyajikannya dalam 3 poin utama, yaitu :
Dari seluruh perenungan dan riset ini, kita bisa menyimpulkan bahwa fenomena lonjakan jumlah pengikut tokoh pseudo-intellectual bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah dampak nyata ketika rasa malas berpikir kritis di media sosial bertemu dengan tokoh yang hobi jualan omong kosong. Melalui modal pakaian keagamaan atau klaim mistis, tokoh-tokoh aneh ini berhasil membangun karisma semu di mata masyarakat. Keadaan ini diperparah oleh efek Dunning-Kruger, di manai tokoh tersebut begitu percaya diri dengan kebodohannya sendiri, sehingga orang awam terjebak dan mengira mereka benar-benar cerdas.
Pada akhirnya, ruang kosong informasi di kepala netizen diisi dengan jawaban instan yang nyeleneh karena kontrol diri yang lemah. Angka pengikut yang banyak dijadikan pembenaran lewat mob mentality—seolah-olah kalau orang banyak yang mengikuti, tokoh tersebut ga mungkin salah. Jika tren pemujaan terhadap tokoh palsu ini dibiarkan, dampaknya sangat berbahaya bagi masa depan generasi kita: matinya akal sehat dan hilangnya respek terhadap ilmu yang benar karena digantikan oleh standar popularitas digital.
Melalui pemahaman tentang kontrol diri (internal locus of control) dan pembagian kendali, kita disadarkan bahwa kewarasan pikiran kita di media sosial sepenuhnya ada di tangan kita sendiri. Kita memang tidak punya kuasa untuk mengatur algoritma ataupun menghentikan tokoh-tokoh pseudo-intellectual itu menyebarkan perkataan yang ngelantur. Namun, kita punya kuasa penuh untuk memilih: mau ikut menutup mata di dalam “ruangan berasap”, atau berani mengambil kendali untuk menyaring apa yang layak kita tonton.
Bagi kita sebagai muslim, urusan ini disempurnakan dengan kewajiban tabayyun dan berserah diri kepada Allah. Tugas kita hari ini sederhana namun krusial: jangan beri panggung untuk hal-hal yang absurd, jaga nalar kritis kita agar tetap waras, dan carilah keteladanan yang benar-benar berlandaskan ilmu.
Sumber
Kruger, J., & Dunning, D. (1999). Unskilled and unaware of it: How difficulties in recognizing one’s own incompetence lead to inflated self-assessments. Journal of Personality and Social Psychology, 77(6), 1121–1134.
Latané, B., & Darley, J. M. (1968). Group inhibition of bystander intervention in emergencies. Journal of Personality and Social Psychology, 10(3), 215–221.
Rotter, J. B. (1966). Generalized expectancies for internal versus external control of reinforcement. Psychological Monographs: General and Applied, 80(1), 1–28.
Weber, M. (1968). Economy and society: An outline of interpretive sociology. (G. Roth & C. Wittich, Eds.). Bedminster Press.